ACEH BARAT – INFOAKTUAL.CO.ID |Tidak pernah ada yang benar-benar tahu ke mana langkah kehidupan akan membawa seseorang. Meulaboh, sabtu, 3/10/26.
Sebuah pertemuan dapat berubah menjadi rumah tangga, sebuah rumah dapat menjadi tempat menaruh harapan, dan sebuah pintu yang terkunci pada suatu petang dapat pula menjadi awal dari runtuhnya kepercayaan.
Kisah pahit itu kini dirasakan WA (24), seorang ibu rumah tangga ( IRT) asal Gampong Rundeng, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, yang mengaku harus menerima kenyataan pahit, rumah tangganya berakhir dengan talak tiga, setelah sebelumnya ia mengaku memergoki suaminya, T.A. (26), bersama seorang perempuan berinisial L.K. (26) di dalam rumah mereka.
Adapun W.A dan T.A, diketahui telah menjalani kehidupan rumah tangga selama lebih kurang hampir 2 tahun. T.A diketahui bekerja sebagai jasa keamanan pada salah satu perusahaan Pertambangan di Aceh Barat.
Cikal bakal kehancuran rumah tangganya mulai dirasakan setelah pasca kelahiran Putra pertama mereka yang seharusnya menjadi momen yang paling membahagiakan bagi keluarga pada pertengahan januari 2026 lalu.
Menurut keterangan korban W.A, Sifat dan karakter suami yang dikenalnya selama ini terbilang cukup baik, penuh perhatian, penurut dan juga penyayang. namun usai melahirkan putra mereka hingga menjalani masa-masa nifas, awal februari 2026 lalu, sikap suaminya itu mulai berubah, menjadi sosok yang pemarah, mudah tersinggung saat di ajak bicara dan arogan.
Disebutkan, dari hari ke hari sikap T.A. semakin menjadi-jadi. Ia kerap pulang larut malam, meninggalkan W.A. bersama sang bayi mungil yang masih membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan kehadiran seorang ayah.
“Padahal dengan kehadiran buah hati kami yang masih kecil dan lucu ini semestinya menjadi cahaya baru dalam kehidupan rumah tangga kami,”ujar WA, seraya senyum tipis yang dipaksakan.
Menurutnya tangis kecil, senyum polos, serta gerak mungil sang bayi seharusnya mampu menghangatkan suasana dan mengusir kesepian di dalam rumah. namun, kenyataan yang dirasakan W.A. justru seolah
Hidup terombang-ambing di tengah lautan.
Di saat seorang ibu semestinya dapat menikmati kebahagiaan bersama keluarga kecilnya, ia malah harus menghadapi malam-malam panjang dalam kesunyian, ditemani sang buah hati yang belum mengerti mengapa sosok ayahnya kerap tidak betah di rumah.
Bagi seorang ibu, mungkin bukan kemewahan yang ia harapkan. Bukan pula janji-janji besar yang ia minta. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kehadiran seorang suami yang siaga, seorang ayah yang menggendong anaknya dan sebuah rumah tempat merancang impian masa depan.
“Jika seandainya malaikat kecil ini bisa bicara, Pak” tentu ia berkata tidak ingin dilahirkan dari keluarga ini, sebab orang yang telah menyebabkan dia hadir ke dunia telah menyia-nyiakannya. hewan saja peduli terhadap anaknya, ya Allah bukakanlah pintu hati suami sekaligus Ayah dari anak saya agar menyadari semua kesilapannya dan tunjukan ia jalan menuju ridhamu Ya Allah, ampunilah dia, bukakan pintu taubat dan jangan biarkan dia dalam kehinaan., sungguh suami saya telah khilaf dibutakan oleh nafsu surga Dunia fana Sesaat,” Ungkap W.A, lirih, kata-katanya mengandung doa terbaik, saat di jumpai Media ini di kediamannya.
Kendati mengetahui terjadi perubahan drastis terhadap suaminya saat itu namun WA mengaku belum menaruh kecurigaan bahwa perubahan tersebut berkaitan dengan kehadiran sosok pihak ketiga dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Puncaknya, peristiwa ini yang kemudian membekas dalam ingatan WA terjadi pada Senin, 07 September 2026, sekitar pukul 18.00 WIB, setelah ia bersama orang tuanya baru kembali dari kampung halaman di Simeulue dan tiba di Meulaboh.
Sesampai di rumahnya di kawasan Gampong Rundeng, WA mendapati pintu rumah mereka dalam keadaan terkunci menggunakan gembok.
Ia kemudian mencoba menghubungi suaminya berniat untuk menanyakan kunci rumah sekaligus memberitahukan bahwa dirinya telah tiba kembali di Meulaboh.
Namun, setelah berkali-kali di hubungi tetapi tidak ada respon nomor yang di tuju tidak Aktif, lantas selanjutnya WA bersama ibu kandungnya kemudian berinisiatif membuka paksa gembok pintu.
Persoalan justru semakin mengundang tanda tanya karena setelah gembok berhasil dibuka, pintu rumah tersebut masih tetap saja tidak bisa ternbuka, ternyata juga terkunci dari dalam.
Perasaan curiga pun semakin kuat. W.A kemudian mendobrak paksa pintu tersebut hingga terbuka. lalu setelah berhasil masuk, justru ia dikagetkan dengan keberadaan sosok Pria, yang tak lain adalah suaminya sendiri T.A, di luar dugaan ternyata berada di dalam rumah tersebut namun dalam benak W.A, mengapa pintu sengaja dikunci dari luar, pikirannya terus berkecamuk.
Situasi tersebut kemudian membuat WA dan ibunya semakin curiga apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah sepeninggalnya Pulang Kampung dan menanyakan maksut mengunci pintu dari luar.
Rasa penasaran W.A semakin kuat, dan berupaya masuk ke kamar ingin mencari tahu apakah ada orang lain di dalam kamar, namun T.A, dengan keras terus menghalanginya. emosi W.A, pun memuncak takkala T.A, terus merangkul serta mencengkeram kuat tangan dan tubuhnya.
Selanjutnya, W.A, dengan nada setengah berteriak, meminta ibu kandungnya menerobos masuk ke kamar guna memastikan apakah ada orang lain di dalam kamar tersebut dan akhirnya ibu kandung WA pun berhasil masuk lalu memeriksa seluruh ruang, alhasil benar saja, mereka mendapati seorang sosok wanita ditutupi kain Bet Cover di atas ranjang tempat tidur mereka, dalam kondisi tidak sewajarnya (sensor) yang disebut berinisial L.K, (25) belakangan diketahui sehari-harinya bekerja pada salah satu Indomaret di kota Meulaboh.
WA mengaku sangat terkejut dan seketika histeris hingga mengundang perhatian warga sekitar. suasana pun sempat ramai. Ia bersama ibunya berupaya meminta penjelasan dan hendak menghadirkan perempuan yang disebutnya (pelakor) itu ke hadapan warga, namun T.A. terus saja menghalang-halangi dan melindungi L.K, sehingga L.K. itu akhirnya berhasil melarikan diri dan kabur dengan mudah di tengah kerumunan warga melalui lewat pintu belakang rumah tersebut.
Ia bahkan sempat mengamankan sejumlah pakaian dalam yang diduga milik perempuan tersebut dan pakaian milik suaminya sebagai barang bukti yang ditemukan setelah kejadian.
Namun, warga sekitar kemudian menyarankan agar pakaian tersebut dibakar karena menurut keyakinan warga setempat barang- barang tersebut dapat mendatangkan kesialan bagi gampong. atas saran tersebut, pakaian-pakaian itu akhirnya tidak lagi disimpan sebagai barang bukti.
Setelah WA mengaku memergoki T.A., bersama seorang wanita
Yang lagi – lagi disebut oleh W.A, sebagai pelakor kini muncul pula dugaan terkait keabsahan selembar dokumen yang disebut-sebut sebagai surat nikah Siri., di kertas itu tertera nama Tgk Abd Azis bertindak sebagai Tengku penghulu nikah antara T.A. dan L.K.
W.A menduga dokumen tersebut PALSU bukan surat nikah yang sah dan bahkan menuding nama Tgk. Abd. Azis sengaja dicatut untuk mengelabui warga.
( Ralat kekeliruan Dari Narsum ) Selanjutnya, WA, Ingin meluruskan tentang keterangan yang Ia sampaikan kepada wartawan Media ini yang Menyebutkan TA ditahan di Polsek keterangan tersebut keliru, yang benar adalah TA memang sempat di tahan, tapi bukan di Polsek JP, akan tetapi di kantor WH. Bermalam di ruang tahanan Kantor Satpol PP/ WH, dan kesokan harinya TA di pulangkqn kembali karena laporannya di sebut sebut tidak memenuhi unsur sebagaimana yang di tuduhkan oleh WA.
” Saya WA, dengan segala kerendahan hati meminta maaf yang sebesar- besarnya kepada publik dan juga khususnya kepada pihak Polsek Johan Pahlawan atas kesilapan dan kekeliruan saya, yang telah memberikan keterangan yang dapat menimbulkan keresahan di tengah – tengah Masyarakat Indonesia Sekali maafkan Saya dan saya berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama di kemudian hari. pernyataan maaf ini saya ungkapkan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Terimakasih, “Ungkap WA dengan tulus dan penuh penyesalan, pernyataan maaf ini saya ungkapkan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. (Terimakasih)
Selanjutnya mengenai Surat Nikah yang melibatkan nama Tgk Abdul Azis yang disebut sebagai penghulu dalam Surat nikah di duga palsu tersebut juga sudah di lakukan perdamaian dengan semua pihak yang di fasilitasi oleh pihak Kepolisian Polsek JP.
Sebelumnya surat nikah yang mencatut nama Tgk Abdul Aziz dan yang bersangkutan telah memberikan keterangan, bawa dirinya tidak pernah mengeluarkan surat tersebut.
Dalam keterangannya, Tgk. Abdul Aziz dengan tegas membantah pernah membuat maupun menerbitkan surat nikah terhadap T.A. dan L.K., Tgk. Aziz juga menyebut terdapat perbedaan yang signifikan antara tanda tangan miliknya dengan tanda tangan yang tercantum pada lembaran dokumen yang disebut sebagai surat nikah siri itu.
Perbedaan itu, menurutnya, menjadi salah satu alasan kuat bahwa dokumen yang mencantumkan namanya sebagai penghulu adalah rekayasa dari pelaku T.A.
Sementara itu tempat yang sama pelaku TA Merasa tingkat keahlian teknologi ( IT ) nya masih jauh ketinggalan dari, Radit, si bocah pintar dalam Flm Sopo Jarwo khirnya ia pun tak mampu berkutik lagi dan mengakui semua perbuatannya, yakni
memalsukan surat nikah Siri dan berulang kali ia meminta maaf.
“Maafkan saya pak, Lembaran Surat Nikah Siri ini memang saya buat sendiri, dan masalah ini sudah di selesaikan secara musyawarah bersama, “ungkap TA.
Bagi W.A, persoalan tersebut semakin memperdalam luka yang ia alami. Ia mengaku bukan hanya menghadapi keretakan rumah tangga, tetapi juga harus berhadapan dengan persoalan yang menurutnya seharusnya dapat dijelaskan secara terang melalui proses hukum.
Di tengah seluruh persoalan tersebut, WA mengaku hal yang paling di khawatirkannya selama ini akhirnya terjadi. T.A, secara tiba-tiba mengucapkan kata cerai terhadap W.A, kenyataan paling berat rumah tangganya berakhir dengan talak tiga.
Peristiwa itu terjadi setelah rangkaian persoalan yang bermula dari dugaan kehadiran perempuan lain dalam kehidupan mereka. kini ia harus menjalani kehidupan bersama bayinya yang masih berusia sekitar empat bulan.
Dalam kondisi ini ia terpaksa harus menghadapi tantangan hidup di tengah kondisi ekonomi yang terbatas ditambah faktor usianya yang masih relatif muda dan minim pengalaman,
sehingga hari-hari yang dijalaninya terasa semakin berat.
Peristiwa ini menjadi perjalanan hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, sebuah kenyataan pahit yang datang secara tiba-tiba ia pun pasrah dan iklas menerima Takdirnya meskipun dalam menjalani hari-hari selanjutnya ia harus mampu menjalankan dua peran sekaligus yaitu menjadi seorang ayah dan ibu bagi putra semata wayangnya.
Perpisahan tersebut bukan sekadar kehilangan pasangan hidup, tetapi juga perubahan besar terhadap kehidupan dirinya dan anak yang masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya.
(Dedy Surya)



