HUT ke-81 RI, THE 1O1 Sedayu Darmawangsa Gelar Fashion Show Inklusif

Jakarta (Infoaktual.co.id) — THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa menggelar fashion show inklusif. Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Acara bertajuk “Celebrate Creativity and Inclusion” berlangsung Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan anak-anak dengan Down syndrome dari POTADS Community.

Sebanyak 10 anak tampil mengenakan busana rancangan Edith House. Mereka terpilih dari 30 anak yang mendaftar mengikuti fashion show. Para peserta berjalan percaya diri di area lobi hotel. Mereka mendapat dukungan dari keluarga, pendamping, dan pengunjung yang hadir.

THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa memilih konsep berbeda tahun ini. Manajemen tidak sekadar menggelar seremoni peringatan kemerdekaan. Hotel tersebut menggandeng tiga mitra dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari Edith House, POTADS Community, dan Madda Craft 1432. Kolaborasi tersebut menggabungkan fesyen, inklusivitas, dan keberlanjutan. Anak-anak juga menjadi pusat kegiatan dalam perayaan tersebut.

Langkah itu memberi pesan bahwa kemerdekaan memiliki makna lebih luas. Kesetaraan kesempatan menjadi bagian penting dalam semangat kemerdekaan. Pengurus POTADS Indonesia, Rani Rosdayantika, mengapresiasi kesempatan tersebut. Menurutnya, pengalaman itu memberikan makna besar bagi anak-anak. “Kesempatan tampil seperti fashion show sangat berarti bagi mereka,” ujar Rani.

Ia berharap kolaborasi serupa terus berkembang pada masa mendatang. Menurutnya, inklusivitas tidak cukup hanya memberikan kesempatan.

Inklusivitas juga membutuhkan ruang yang aman bagi setiap anak. Anak-anak harus merasa diterima, dihargai, dan percaya diri. Pandangan tersebut menjadi penting dalam membangun lingkungan sosial yang setara. Kesempatan yang sama harus diberikan tanpa diskriminasi berdasarkan kondisi seseorang.

Dari perspektif sosial, kegiatan tersebut menjadi bentuk praktik inklusivitas. Namun, komitmen tersebut perlu berlanjut melalui program yang konsisten.

Inklusivitas tidak seharusnya berhenti sebagai kampanye atau seremoni. Dampaknya harus dapat dirasakan komunitas secara berkelanjutan.

Usung Busana Ramah Lingkungan

Fashion show tersebut juga membawa pesan tentang keberlanjutan. Edith House menggunakan teknik eco printing dalam pembuatan busana. Teknik tersebut memanfaatkan bentuk dan pigmen alami tumbuhan. Salah satu bahan yang digunakan adalah kayu secang.

Kayu secang menghasilkan gradasi warna merah hingga oranye. Proses tersebut mengurangi ketergantungan terhadap pewarna sintetis. Founder & Director Edith House, Edita Rianti Anastasia, menjelaskan filosofi karyanya. Ia menilai setiap kain memiliki cerita dan keunikan. “Setiap kain memiliki cerita dan setiap orang memiliki keunikan,” kata Edita.

Menurutnya, eco printing menghadirkan keindahan alam melalui karya fesyen. Kolaborasi tersebut juga membawa pesan keberagaman dan kreativitas. Busana tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pakaian. Karya itu menjadi media untuk menyampaikan pesan sosial.

Pesan tersebut mencakup kreativitas, keberagaman, inklusivitas, dan kepedulian lingkungan. Pendekatan tersebut memperluas makna sebuah pertunjukan fesyen.

UMKM Hadirkan Produk Daur Ulang

Konsep keberlanjutan juga hadir melalui Madda Craft 1432. UMKM tersebut didirikan oleh Ikke Achmad. Madda Craft 1432 memproduksi clutch dan dompet berbahan limbah kemasan pasta gigi. Limbah tersebut diolah kembali menjadi produk bernilai guna.

Produk kemudian dipadukan dengan kain tenun khas Indonesia. Perpaduan tersebut menghadirkan unsur modern dan identitas budaya. Karya Edith House dan Madda Craft 1432 dipamerkan di Merchandise Corner. Area tersebut berada di lobi hotel dan terbuka untuk masyarakat.

Kehadiran UMKM dalam acara tersebut memperlihatkan peluang ekonomi kreatif. Produk lokal mendapat ruang promosi langsung kepada konsumen.

Namun, promosi produk lokal perlu diikuti dukungan jangka panjang. Pelaku UMKM membutuhkan akses pasar, pembiayaan, dan pendampingan.

Dukungan semacam itu dapat memperkuat keberlanjutan usaha mereka. Industri perhotelan memiliki peluang besar dalam membangun ekosistem tersebut.

Anak-anak Belajar Table Manner

Rangkaian kegiatan tidak berhenti setelah fashion show selesai. Anak-anak POTADS kemudian mengikuti sesi table manner. Kegiatan tersebut berlangsung di Dwangsa9 Indonesian Restaurant. Anak-anak belajar tata cara makan secara interaktif.

Materi mencakup appetizer, main course, hingga dessert. Pendamping juga ikut menemani mereka selama kegiatan berlangsung. Aktivitas tersebut memberikan pengalaman praktis kepada para peserta. Mereka tidak hanya tampil sebagai model dalam kegiatan tersebut.

Mereka juga memperoleh pengalaman sosial dan edukatif. Pendekatan tersebut membuat acara memiliki manfaat lebih luas. General Manager THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa, Eva Rosdiana, menjelaskan konsep tersebut. Menurutnya, kemerdekaan bukan sekadar perayaan seremonial. “Kemerdekaan juga berarti memberikan ruang yang setara,” ujar Eva.

Ia menilai setiap anak memiliki potensi dan cerita yang layak diapresiasi. Karena itu, hotel mendukung karya lokal dan komunitas. Kolaborasi tersebut juga melibatkan Madda Craft 1432 sebagai pelaku UMKM. Eva berharap kegiatan tersebut menghasilkan pengalaman yang bermakna.

Industri Hospitality Dituntut Lebih Inklusif

Marketing Communication Manager PHM Hotels, Greta Indri, turut memberikan pandangan. Menurutnya, industri hospitality memiliki tanggung jawab sosial yang lebih luas. “Hospitality adalah tentang membuat setiap orang merasa diterima,” kata Greta.

Ia menilai industri perhotelan dapat menciptakan ruang inklusif bagi masyarakat. Industri tersebut juga dapat membantu talenta lokal berkembang.

Pandangan itu memperlihatkan perubahan fungsi industri hospitality. Hotel tidak hanya menjadi tempat menginap atau penyelenggara acara. Hotel juga dapat menjadi ruang interaksi sosial dan ekonomi kreatif. Karena itu, program inklusif perlu memiliki dampak yang terukur.

 

Perayaan HUT ke-81 RI di THE 1O1 menjadi salah satu contohnya. Catwalk dan meja makan menjadi ruang pembelajaran sekaligus apresiasi. Namun, keberlanjutan program menjadi tantangan berikutnya. Komitmen inklusivitas harus dibuktikan melalui tindakan nyata.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara berbeda. Anak-anak, komunitas, desainer, dan UMKM mendapat ruang bersama. Melalui “Celebrate Creativity and Inclusion”, pesan kemerdekaan terasa lebih konkret. Kesetaraan, kreativitas, dan keberlanjutan hadir dalam satu rangkaian kegiatan.

Perayaan tersebut akhirnya tidak berhenti pada seremoni. Ia menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa setiap orang berhak berkarya.