Film Beautiful Pain Hadirkan Perjuangan Single Mom Keluar dari Relasi Toxic

Jakarta (Infoaktual.co.id) – Film Beautiful Pain akhirnya menemui penonton setelah melalui proses panjang sejak 2023. Sutradara Dimas Brojonegoro membawa kisah perjuangan seorang single mom menghadapi relasi toxic.

Film ini tidak sekadar mengangkat persoalan perempuan dalam menghadapi hubungan bermasalah. Beautiful Pain juga menyoroti trauma, keluarga, dan keberanian memulai kehidupan baru.

Dimas mengatakan film tersebut lahir dari perjuangan bersama seluruh pihak. Proses panjang itu akhirnya mengantarkan film menuju layar lebar pada 2026.

“Menanti dari tahun 2023, akhirnya bisa rilis di tahun 2026,” kata Dimas.

Menurut Dimas, Beautiful Pain berangkat dari pengalaman emosional seorang perempuan bernama Niken. Ia berusaha mengakhiri hubungan toxic dengan pasangannya.

Niken kemudian berusaha bangkit dari trauma yang membelenggu kehidupannya. Perjalanan tersebut menjadi konflik utama yang menggerakkan cerita film.

“Ini bukan hanya soal perempuan, tetapi perjuangan seorang single mom,” ujar Dimas.

Dimas menggandeng sejumlah aktor profesional untuk menghidupkan karakter dalam film tersebut. Ia secara khusus memilih Raihaanun untuk memerankan karakter Niken.

Menurut Dimas, keputusan itu sudah muncul ketika mengembangkan cerita bersama Hantung. Ia menilai karakter Raihaanun sesuai dengan konstruksi karakter Niken.

“Aku memang sudah memilih Raihaanun sejak mengembangkan cerita,” kata Dimas.

Ia juga menilai Raihaanun mampu menghadirkan karakter Niken secara meyakinkan. Sementara itu, Dimas memilih Baim Wong untuk memerankan karakter Dirga.

Dimas mengaku sudah mengenal kemampuan Baim melalui berbagai sinetron. Ia melihat Baim memiliki karakter akting yang tajam.

“Aku melihat Baim Wong mempunyai karakter yang tajam saat di sinetron,” ujarnya.

Raihaanun mengaku langsung tertarik ketika mendapatkan tawaran sebagai Niken. Ia menilai perjalanan hidup karakter tersebut sangat menarik.

“Tidak ada kesulitan untuk bekerja sama dengan Dimas Brojonegoro,” kata Raihaanun.

Namun, beberapa adegan meninggalkan tekanan emosional bagi Raihaanun selama proses produksi. Salah satunya terjadi ketika Niken berebut anak di depan rumah.

Adegan lain muncul ketika Niken mendapatkan tamparan dari Dirga. Raihaanun juga menyebut adegan menggunakan blazer biru sebagai tantangan emosional.

“Adegan blazer biru itu sekitar enam menit,” ujar Raihaanun.

Bagi Raihaanun, Niken merupakan gambaran perempuan yang mampu bertahan dalam tekanan. Karakter tersebut sekaligus memperlihatkan perjuangan seorang ibu menghadapi konflik keluarga.

“Niken itu perempuan yang hebat dan tangguh,” kata Raihaanun.

Aktris Kiku juga tertarik bergabung karena cerita Beautiful Pain dinilai memiliki daya tarik. Ia melihat film tersebut membawa perjuangan perempuan sebagai fondasi utama cerita.

Kiku memerankan karakter Jane dalam film tersebut. Ia menilai kisah perjuangan perempuan menjadi alasan penting keterlibatannya.

Yaya C. Noer juga menyampaikan kesan positif selama bekerja bersama Dimas. Ia menilai Dimas memahami konsep yang ingin diwujudkannya.

“Ternyata sangat menyenangkan karena dia tahu apa yang dia mau,” kata Yaya.

Sementara itu, Tara Budiman memerankan karakter Rendi. Peran tersebut menjadi pengalaman berbeda bagi Tara dalam dunia produksi film.

Tara mengaku pertama kali mendapat tawaran melalui telepon dari Dimas. Ia kemudian tertarik setelah mengetahui karakter Rendi memiliki sisi humor.

“Karakter Rendi sangat menarik karena karakternya fun,” ujar Tara.

Film ini juga melibatkan Evano Zian sebagai Zio. Karakter tersebut digambarkan sebagai anak polos yang menyayangi keluarganya.

Zio tidak memahami alasan keluarganya bertengkar dan akhirnya berpisah. Kondisi tersebut membuat karakter Zio memiliki beban emosional tersendiri.

Evano mengingat satu adegan ketika dirinya menangis di dalam mobil. Tangisan tersebut bahkan terjadi secara spontan selama proses syuting.

“Aku nangis beneran karena kukira aku ditinggal mama,” kata Evano.

Arantya Kirana memerankan Naya dalam film tersebut. Ia mengaku senang mendapat kepercayaan membawakan karakter tersebut.

Arantya juga mendapat dukungan dari Raihaanun dan Baim Wong selama proses produksi. Ia menganggap pengalaman tersebut sebagai tantangan baru.

Sebelumnya, Arantya pernah bermain dalam film horor pada 2023. Tawaran Beautiful Pain membuatnya kembali tertantang mengeksplorasi karakter berbeda.

Ia membangun chemistry melalui proses reading bersama pemeran utama. Menurutnya, proses tersebut membantu membangun hubungan antarkarakter.

Baim Wong turut memberikan penilaian terhadap hasil akhir film tersebut. Ia mengaku terkejut setelah melihat hasil produksinya.

“Saya kaget, bagus banget hasilnya,” kata Baim Wong.

Menurut Baim, setiap detail emosi dalam film mampu tersampaikan kepada penonton. Ia juga menyoroti sejumlah adegan yang dilakukan secara langsung.

Salah satunya adegan tamparan yang dilakukan secara nyata dalam proses syuting. Adegan tersebut memperlihatkan pendekatan realistis dalam membangun ketegangan cerita.

Baim juga mengungkap tantangan ketika berada di balik kamera. Menurut dia, menjadi sutradara memiliki kepuasan sekaligus tekanan tersendiri.

“Menjadi sutradara mempunyai kepuasan dari awal sampai pemain suka,” ujarnya.

Ia membandingkan pengalaman tersebut ketika menjadi pemain dan mengarahkan pemain. Menurut Baim, kedua bidang tersebut memiliki tuntutan berbeda.

“Ketika jadi pemain, dua bidangnya berbeda,” kata Baim.

Bagi Baim, menjadi sutradara membutuhkan tanggung jawab besar terhadap keseluruhan produksi. Sutradara harus memastikan visi cerita diterima pemain dan tersampaikan kepada penonton.

Beautiful Pain akhirnya hadir membawa isu relasi toxic dan perjuangan keluarga. Film tersebut juga mengajak penonton melihat dampak konflik dari perspektif anak.

Kisah Niken menjadi pintu masuk untuk membahas trauma secara lebih personal. Perjuangannya memperlihatkan bahwa keluar dari hubungan toxic membutuhkan keberanian.

Film ini sekaligus menempatkan pengalaman single mom sebagai persoalan sosial. Konflik personal Niken berkembang menjadi persoalan keluarga yang lebih kompleks.

Setelah tiga tahun menunggu sejak proses awal, Beautiful Pain akhirnya resmi dirilis. Film tersebut membawa cerita tentang luka, keberanian, dan upaya membangun kehidupan baru.