Curug (Infoaktual.co.id) — Kepolisian Sektor Curug menerjunkan personel gabungan mengamankan ibadah kebangunan rohani. Kegiatan berlangsung di Gereja GBI Curug, Desa Curug Wetan, Minggu, 20 September 2026. Pengamanan dimulai pukul 17.00 WIB, bersamaan jadwal Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Young.
Pendeta Rendy Candrawinata tampil sebagai pembicara utama malam itu. Jemaat memadati gereja mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga selesai. Kehadiran personel kepolisian mendampingi jalannya acara sejak pembukaan.

Pengamanan dipimpin langsung Perwira Pengawas Polsek Curug, IPTU Herman. Ia turun bersama Bhabinkamtibmas Desa Curug Wetan, AIPTU Iksan Iskandar. Brigadir Tony Ega dari Unit Intelkam Polsek Curug turut dilibatkan dalam tim.
Kekuatan pengamanan tidak hanya mengandalkan personel Polri semata. Dua anggota Citra Bhayangkara diterjunkan memperkuat barisan pengamanan. Total lima personel bersiaga penuh sepanjang jalannya kebaktian.
Kehadiran aparat di lokasi punya tujuan spesifik dan terukur. Personel memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan aman tanpa gangguan. Ketertiban jemaat menjadi prioritas utama selama kegiatan berlangsung.
Petugas tidak sekadar berjaga pasif di sekitar gereja. Mereka aktif memantau situasi lingkungan sekitar lokasi ibadah. Pemantauan mencakup akses masuk hingga area parkir jemaat.
Koordinasi lintas pihak turut memperkuat pengamanan kegiatan keagamaan ini. Personel berkomunikasi langsung dengan pengurus gereja sepanjang acara. Penanggung jawab kegiatan, Apok, menjadi mitra koordinasi utama aparat di lapangan.
Sinergi ini dirancang menjaga kenyamanan jemaat secara menyeluruh. Setiap potensi gangguan bisa direspons cepat berkat koordinasi erat. Pola kerja sama semacam ini lazim diterapkan pada kegiatan keagamaan berskala besar.
PS Kapolsek Curug AKP H.P. Tampubolon menjelaskan filosofi di balik pengamanan ini. Ia menegaskan pengamanan rumah ibadah bagian dari pelayanan publik Polri.
“Pengamanan kegiatan keagamaan merupakan bentuk pelayanan Polri,” kata Tampubolon menegaskan komitmen institusinya.
Ia merinci elemen-elemen yang dilibatkan dalam operasi pengamanan tersebut. Personel Polri, Citra Bhayangkara, dan penyelenggara acara bersinergi penuh.
“Sinergi menjadi bagian penting untuk menjaga kegiatan berjalan tertib,” ujarnya menekankan pentingnya kolaborasi.
Pernyataan ini menegaskan pendekatan Polri terhadap kegiatan sosial-keagamaan. Kehadiran aparat bukan sekadar simbolis di lokasi ibadah. Ia dimaksudkan memberi rasa aman nyata bagi jemaat yang beribadah.
Pendekatan pengamanan preventif semacam ini kerap diterapkan lintas agama. Momen ibadah berskala besar rentan gangguan bila tanpa pengawasan memadai. Kehadiran polisi menjadi bentuk mitigasi risiko sejak dini.
Selama kegiatan berlangsung, situasi di lokasi terpantau kondusif. Tidak ada insiden atau gangguan keamanan tercatat sepanjang acara. Jemaat dapat mengikuti kebaktian hingga tuntas tanpa hambatan berarti.
Keberhasilan pengamanan ini turut mencerminkan efektivitas kerja sama lintas unsur. Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak komunikasi warga memainkan peran penting. Kehadiran mereka mempermudah koordinasi dengan pihak gereja secara langsung.
Model pengamanan seperti ini patut menjadi rujukan kegiatan serupa. Kolaborasi Polri, elemen sukarelawan, dan penyelenggara acara terbukti efektif. Skema ini bisa direplikasi pada kegiatan keagamaan lain di wilayah hukum Polsek Curug.
Polsek Curug diharapkan konsisten menerapkan pola pengamanan preventif semacam ini. Kehadiran aparat di setiap kegiatan masyarakat memperkuat rasa percaya publik. Pelayanan keamanan yang merata menjadi indikator kinerja kepolisian di tingkat sektor.
Ke depan, tantangan pengamanan kegiatan keagamaan diperkirakan makin kompleks. Jumlah jemaat yang terus bertambah menuntut personel lebih memadai. Evaluasi berkala atas skema pengamanan tetap diperlukan menjaga efektivitasnya.
Kegiatan KKR Young di Curug Wetan menjadi contoh sinergi lintas elemen. Keamanan dan kekhusyukan ibadah jemaat, pada akhirnya, berjalan beriringan.



