Polsek Metro Menteng Tangkap Pria Bawa 112,13 Gram Sabu, Jaringan Masih Diburu

Jakarta (Infoaktual.co.id) — Polsek Metro Menteng menggagalkan dugaan peredaran narkotika jenis sabu. Polisi menangkap seorang pria berinisial DBC alias B, 48 tahun. Petugas juga menyita sabu seberat 112,13 gram dari tangan tersangka.

Penangkapan berlangsung di sebuah gang kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Lokasinya berada di Jalan Menteng Tenggulun, RT 02/RW 08.

Polisi melakukan penangkapan pada Sabtu, 12 September 2026 sekitar pukul 18.00 WIB. Subnit V Narkoba Polsek Metro Menteng menangani langsung pengungkapan tersebut.

Kapolsek Metro Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu membenarkan penangkapan itu. Menurut Braiel, polisi masih mengembangkan kasus untuk mengungkap jaringan lebih luas. “Pengungkapan ini merupakan bentuk komitmen kami memberantas peredaran narkotika,” ujar Braiel.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Mako Polsek Metro Menteng. Konferensi pers berlangsung pada Senin, 14 September 2026. Sabu 112,13 Gram Disita

Polisi mengamankan barang bukti sabu seberat 112,13 gram dalam pengungkapan tersebut. Barang bukti itu kini berada dalam penguasaan penyidik untuk pemeriksaan lanjutan.

Polisi juga mengirimkan barang bukti tersebut ke Laboratorium Forensik. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan kandungan barang yang disita.

Langkah itu penting untuk memperkuat pembuktian dalam proses penyidikan. Dalam perkara narkotika, pembuktian tidak cukup hanya berdasarkan pengakuan tersangka.

Penyidik harus memastikan barang bukti memiliki keterkaitan dengan tindak pidana. Pemeriksaan ilmiah menjadi bagian penting dalam membangun konstruksi perkara.

Apalagi polisi menduga barang tersebut berkaitan dengan aktivitas peredaran narkotika. Namun, dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui proses hukum. Status hukum tersangka juga harus mengikuti asas praduga tak bersalah.

Polisi Klaim Selamatkan Ratusan Ribu Jiwa

Kepolisian memperkirakan penyitaan 112,13 gram sabu berpotensi menyelamatkan 450.000 jiwa. Angka tersebut menunjukkan besarnya ancaman sosial dari peredaran narkotika.

Namun, klaim tersebut tetap merupakan estimasi berdasarkan perhitungan kepolisian. Yang lebih penting ialah membongkar sumber dan tujuan distribusi barang. Sebab, menangkap satu orang belum otomatis memutus mata rantai peredaran.

Jaringan narkotika biasanya melibatkan sejumlah peran dengan pola distribusi tertentu. Karena itu, penyidikan harus bergerak melampaui tersangka yang telah ditangkap. Polisi kini menelusuri asal-usul sabu yang ditemukan dalam perkara tersebut.

Penyidik juga mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain. Pendalaman itu menjadi kunci untuk menentukan apakah perkara memiliki jaringan lebih besar.

Kapolres Dorong Pengembangan Jaringan

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Dr. Reynold E.P. Hutagalung mengapresiasi pengungkapan tersebut.

Ia menilai kerja personel lapangan menjadi bagian penting pemberantasan narkotika. Namun, Reynold meminta penyidik tidak berhenti pada penangkapan DBC. “Pengungkapan ini bagian dari upaya menekan peredaran narkotika,” kata Reynold.

“Kami akan terus melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan yang lebih luas,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan pentingnya pengembangan perkara secara menyeluruh. Penangkapan tersangka seharusnya menjadi pintu masuk membongkar pemasok. Polisi juga perlu menelusuri jalur distribusi dan penerima barang.

Langkah tersebut penting untuk memastikan pemberantasan narkotika tidak bersifat parsial. Jika hanya berhenti pada satu tersangka, rantai peredaran berpotensi kembali bergerak.

Menunggu Pembuktian di Proses Hukum

DBC kini telah diamankan bersama seluruh barang bukti terkait perkara tersebut. Penyidik selanjutnya melakukan pemeriksaan untuk melengkapi berkas perkara.

Polisi juga mendalami asal barang dan kemungkinan keterlibatan pihak lain. Proses tersebut akan menentukan konstruksi hukum terhadap tersangka. Penyidik perlu membuktikan setiap unsur tindak pidana secara objektif.

Termasuk memastikan posisi tersangka dalam dugaan rantai peredaran narkotika. Publik tentu menunggu apakah pengungkapan ini mampu membuka jaringan sebenarnya.

Sebab, peredaran narkotika tidak berhenti pada seorang kurir atau pengedar. Ada pemasok, pengendali, hingga penerima yang perlu ditelusuri.

Karena itu, pengembangan perkara menjadi ujian bagi keseriusan aparat penegak hukum.

Pemberantasan narkotika membutuhkan lebih dari sekadar penangkapan dan penyitaan.

Polisi harus mengejar aktor utama yang mengendalikan distribusi barang terlarang. Dengan demikian, penegakan hukum tidak berhenti pada lapisan paling bawah. Kasus DBC kini memasuki tahap penting dalam proses penyidikan.

Hasil pengembangan akan menentukan sejauh mana jaringan tersebut dapat dibongkar. Masyarakat pun menanti transparansi dari setiap perkembangan perkara tersebut.