JMP Desak Evaluasi Pengawasan RS Polri Kramat Jati Usai Tahanan Polsek Tigaraksa Tewas di Ruang Perawatan

twibbon infoaktual dki jakarta 2251db00 1ee0 43ea ba07 55179720d66e.png

Jakarta (Infoaktual.co.id) – Jurnalis Mitra Polri (JMP) meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan tahanan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Desakan itu muncul setelah seorang tahanan Polsek Tigaraksa ditemukan meninggal dunia di ruang perawatan pada Minggu (26/7/2026) dini hari.

Korban diketahui bernama Slamet Widodo (49). Ia merupakan tahanan dalam perkara dugaan pencabulan. Saat kejadian, Slamet sedang menjalani perawatan di Ruang Melati 2 RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. JMP menilai peristiwa tersebut menjadi perhatian serius. Organisasi itu meminta kepolisian mengevaluasi prosedur pengawasan terhadap tahanan yang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.

IMG 20260703 WA0015

Ketua JMP Ikhwan Aziz menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia menegaskan setiap tahanan tetap berada dalam tanggung jawab negara.

Menurut Ikhwan, aspek pengamanan dan pengawasan harus menjadi prioritas selama tahanan dirawat di rumah sakit.
“Kami turut berduka atas meninggalnya tahanan tersebut,” kata Ikhwan dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026).
Ia menegaskan status hukum seseorang tidak mengurangi kewajiban negara memberikan pengawasan.
“Setiap tahanan tetap berada dalam tanggung jawab negara,” ujarnya.

Ikhwan meminta aparat mengusut peristiwa itu secara terbuka. Menurutnya, penyelidikan transparan penting untuk mengetahui penyebab kejadian.
“Peristiwa ini perlu diusut secara transparan,” ucapnya.

Ia mengatakan hasil penyelidikan harus menjelaskan bagaimana korban bisa meninggal di ruang perawatan.
Selain itu, Ikhwan mendorong kepolisian mengevaluasi standar operasional prosedur (SOP) pengawasan tahanan yang menjalani perawatan.

Evaluasi tersebut mencakup sistem penjagaan, penilaian tingkat risiko tahanan, hingga koordinasi petugas pengawal dengan tenaga medis.
Menurut Ikhwan, pemeriksaan terhadap benda yang berpotensi membahayakan diri juga harus diperketat.
“Evaluasi SOP menjadi penting,” kata Ikhwan.

Ia menegaskan evaluasi bukan untuk mencari pihak yang disalahkan.
Sebaliknya, langkah tersebut bertujuan mencegah kejadian serupa pada masa mendatang. “Tujuannya agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal JMP Arif Yunianto meminta penyelidikan dilakukan secara profesional. Ia juga meminta aparat bekerja objektif dan menyampaikan hasil penyelidikan kepada masyarakat. Menurut Arif, keterbukaan informasi akan mengurangi munculnya spekulasi di tengah publik.
“Semua fakta harus diungkap berdasarkan hasil penyelidikan,” kata Arif.

Ia menilai masyarakat berhak mengetahui proses penanganan kasus tersebut. Publik juga perlu mengetahui apakah seluruh prosedur pengawasan telah dijalankan sesuai ketentuan. “Transparansi menjadi kunci menjaga kepercayaan masyarakat,” ujarnya.

Arif menambahkan penanganan tahanan yang dirawat di rumah sakit memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, diperlukan koordinasi yang kuat antara petugas pengamanan dan tenaga kesehatan. Ia menilai setiap institusi memiliki standar operasional masing-masing.

Namun, koordinasi antarlembaga harusberjalan efektif demi menjamin keamanan tahanan. “Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan bila ditemukan celah,” kata Arif.

Menurutnya, hasil penyelidikan nantinya dapat menjadi dasar penyempurnaan sistem pengawasan. Dengan demikian, prosedur pengamanan dapat diperbaiki sesuai kebutuhan.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun, korban ditemukan meninggal sekitar pukul 02.59 WIB. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan kepada petugas sekitar pukul 03.30 WIB. Korban pertama kali ditemukan oleh seorang perawat.

Saat itu, perawat sedang melakukan pemeriksaan rutin terhadap pasien. Perawat mendapati korban dalam kondisi tergantung di ruang perawatan. Korban diduga menggunakan kain sprei yang diikatkan pada jeruji bagian atas tembok ruangan.

Petugas medis kemudian melakukan pemeriksaan terhadap kondisi korban.
Hasil pemeriksaan menyatakan korban telah meninggal dunia. Setelah menerima laporan, aparat kepolisian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara.

Penyidik juga memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap kronologi kejadian.
Selain itu, polisi membuat laporan resmi sebagai dasar penyelidikan. Barang bukti di lokasi juga telah diamankan untuk kepentingan penyidikan.

Hingga kini, kepolisian masih mendalami penyebab pasti kematian korban. Penyidik juga terus menyusun kronologi lengkap berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti. Proses penyelidikan masih berlangsung. Polisi belum menyampaikan kesimpulan akhir mengenai penyebab kematian korban.

JMP berharap penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan akuntabel.
Organisasi itu juga meminta hasil penyelidikan diumumkan kepada masyarakat.

Menurut JMP, keterbukaan informasi penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap proses penegakan hukum.
Selain itu, hasil evaluasi diharapkan menjadi dasar perbaikan sistem pengawasan tahanan di fasilitas kesehatan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat perlindungan terhadap setiap tahanan yang berada dalam pengawasan negara. JMP berharap evaluasi tidak berhenti pada penanganan kasus ini.
Perbaikan prosedur diharapkan berlaku di seluruh fasilitas kesehatan yang menangani tahanan.

Dengan pengawasan yang lebih ketat, potensi kejadian serupa di masa depan dapat diminimalkan. JMP menegaskan evaluasi menyeluruh merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas pengamanan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum.