Bogor (Infoaktual.co.id) – Sebanyak 775 siswa Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Kemampuan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Tahun Anggaran 2026 resmi memulai pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Metro Jaya, Cigombong, Kabupaten Bogor, Senin (20/7/2026).
Upacara pembukaan dipimpin Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol. Dekananto Eko Purwono. Wakapolda bertindak sebagai inspektur upacara. Kegiatan berlangsung di lingkungan SPN Polda Metro Jaya. Upacara dihadiri para Pejabat Utama Polda Metro Jaya.
Sebanyak 775 siswa berasal dari 34 Polda di Indonesia. Mereka akan menjalani pendidikan selama lima bulan. Program tersebut menjadi bagian pembentukan Bintara Polri Kemampuan SPKT. Pendidikan dirancang membentuk personel yang profesional. Lulusan juga diharapkan memiliki integritas tinggi.
Selain itu, peserta dibentuk menjadi polisi yang humanis. Mereka dipersiapkan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Dalam upacara tersebut, Wakapolda membacakan amanat Kalemdiklat Polri Komjen Pol. R.Z. Panca Putra Simanjuntak.
Kalemdiklat menegaskan pendidikan menjadi tahapan penting pembentukan karakter. Peserta didik akan bertransformasi dari masyarakat sipil menjadi insan Bhayangkara. Transformasi tersebut berlangsung melalui pendidikan intensif.
Selama lima bulan, peserta akan mengikuti berbagai materi. Materi mencakup pembelajaran akademik praktik kepolisian. Peserta juga menjalani latihan fisik. Mereka akan mengikuti pembinaan mental. Disiplin menjadi bagian utama pendidikan.
Kalemdiklat mengingatkan seluruh peserta mempersiapkan diri menghadapi tantangan. “Lima bulan ke depan menjadi masa pembentukan karakter setiap peserta didik,” demikian amanat Kalemdiklat yang dibacakan Wakapolda.

Menurut Kalemdiklat, pendidikan tidak akan berlangsung mudah. Peserta akan menghadapi jadwal yang padat. Latihan juga menuntut ketahanan fisik. Selain itu, peserta diuji secara mental.
Kemampuan akademik kepolisian juga menjadi penilaian. Karena itu, seluruh peserta diminta menjaga semangat. Kalemdiklat meminta peserta segera beradaptasi. Mereka harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di lembaga pendidikan.
Seluruh peraturan wajib dipatuhi. Peserta juga diminta menghormati pendidik. Pengasuh harus diperlakukan dengan hormat. Soliditas antarsiswa juga harus dibangun sejak awal. Kebersamaan dinilai menjadi modal penting.
Kalemdiklat meminta peserta meninggalkan sikap individualistis. Semangat saling membantu harus dikedepankan. Setiap tantangan harus dijadikan proses pembelajaran.
Menurut Kalemdiklat, tantangan akan membentuk ketangguhan. “Jangan hanya menjadi peserta didik yang sekadar lulus,” bunyi amanat tersebut.
Kalemdiklat berharap seluruh peserta menjadi lulusan berkualitas. Lulusan harus siap melayani masyarakat. Mereka juga diharapkan mampu menjawab kebutuhan organisasi Polri.
Selain memberikan arahan kepada peserta didik, Kalemdiklat juga menyampaikan pesan kepada penyelenggara pendidikan. Pesan ditujukan kepada seluruh Kapolda. Arahan juga diberikan kepada kepala SPN.
Tenaga pendidik dan instruktur turut menjadi perhatian. Pengasuh diminta menjalankan tugas secara profesional. Kalemdiklat menegaskan pendidikan harus mengacu pada kurikulum Outcome-Based Education atau OBE.
Kurikulum tersebut berorientasi pada pencapaian kompetensi lulusan. Pendekatan itu menekankan hasil pembelajaran. Kompetensi peserta menjadi ukuran utama.
Dengan demikian, lulusan diharapkan memiliki kemampuan sesuai kebutuhan tugas kepolisian. Kalemdiklat juga mengingatkan pentingnya lingkungan pendidikan yang sehat.

Seluruh proses pendidikan harus bebas dari kekerasan. Praktik perundungan tidak boleh terjadi. Tindakan yang merendahkan martabat peserta juga dilarang.
“Hindari segala bentuk kekerasan dan perundungan dalam pendidikan,” tegas Kalemdiklat.
Menurut dia, pendidikan yang tegas bukan berarti kasar. Latihan berat tidak boleh menghilangkan martabat peserta. Ketegasan harus membangun karakter. Pendidikan juga harus menumbuhkan integritas.
Kalemdiklat meminta seluruh pendidik menjadi teladan. Instruktur harus memberikan contoh melalui tindakan. Disiplin wajib ditunjukkan setiap hari. Integritas juga harus tercermin dalam perilaku.
Peserta didik dinilai belajar dari sikap pendidik. Mereka tidak hanya menerima materi pembelajaran. Mereka juga meneladani perilaku instruktur. Karena itu, kualitas pendidik menjadi faktor penting.
Pendidikan di SPN Polda Metro Jaya menjadi bagian penguatan pelayanan Polri. Kemampuan SPKT memiliki peran strategis. SPKT menjadi garda terdepan pelayanan kepolisian.

Personel SPKT berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka menerima laporan dan pengaduan. Pelayanan yang cepat menjadi kebutuhan utama. Karena itu, kompetensi personel harus terus ditingkatkan.
Melalui pendidikan tersebut, Polri berharap lahir personel berkualitas. Lulusan diharapkan mampu bekerja profesional. Mereka juga harus menjunjung tinggi etika. Integritas menjadi nilai utama. Sikap humanis harus melekat dalam setiap pelayanan.
Seluruh kemampuan tersebut mendukung implementasi Polri Presisi. Program pendidikan lima bulan menjadi fondasi penting. Peserta dipersiapkan menghadapi tantangan tugas di lapangan.
Dengan pembentukan karakter, disiplin, dan kompetensi, lulusan Bintara Polri Kemampuan SPKT diharapkan mampu memberikan pelayanan yang cepat, profesional, humanis, serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.



