Jakarta (Infoaktual.co.id) — Kesehatan perempuan pascamenopause masih membutuhkan perhatian serius dalam pelayanan kesehatan dan kebijakan publik. Penurunan hormon estrogen dapat memicu gangguan urogenital yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Keluhan tersebut meliputi vagina kering, nyeri saat berhubungan seksual, dan infeksi saluran kemih berulang. Sebagian perempuan juga mengalami inkontinensia urine hingga prolaps organ panggul.
Masalahnya, perubahan fisiologis ini kerap dianggap sebagai konsekuensi alami penuaan. Anggapan tersebut berisiko membuat perempuan menunda pemeriksaan dan kehilangan kesempatan memperoleh penanganan tepat.

Dr. Kanadi Sumapradja, Sp.O.G., Subsp.F.E.R., M.Sc., menyoroti pentingnya edukasi kesehatan reproduksi perempuan. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi tersebut bertugas di RS Pondok Indah IVF Centre.
Persatuan Menopause Indonesia (Permi) turut menyoroti keluhan pada vagina dan saluran kemih. Penurunan estrogen dapat mengubah kondisi jaringan serta mengurangi elastisitas vagina.
”Vagina terasa nyeri, panas, dan perih tanpa ada apa-apa pun tetap tidak nyaman,” demikian kutipan dalam materi diskusi kesehatan yang diberikan.
Keluhan tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan pribadi. Gangguan urogenital dapat memengaruhi kesehatan seksual, kualitas tidur, aktivitas sosial, dan kesejahteraan psikologis.
Penurunan Estrogen dan Risiko Gangguan Urogenital
Menopause merupakan fase alami ketika menstruasi berhenti secara permanen. Namun, perubahan hormonal selama fase ini dapat menimbulkan gejala yang membutuhkan penanganan medis.
Penurunan estrogen dapat menyebabkan sindrom genitourinaria menopause atau genitourinary syndrome of menopause (GSM). Kondisi tersebut mencakup perubahan jaringan vagina, vulva, dan saluran kemih bagian bawah.
Jaringan vagina dapat menjadi lebih tipis, kering, dan kurang elastis. Perubahan ini dapat memicu iritasi, sensasi terbakar, serta nyeri saat berhubungan seksual.
Kondisi nyeri saat berhubungan seksual dikenal sebagai dispareunia. Keluhan tersebut dapat memengaruhi hubunga intim dan kualitas hidup perempuan.
Penurunan estrogen juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran kemih. Gejalanya mencakup nyeri saat berkemih dan peningkatan frekuensi buang air kecil.

Sebagian perempuan mengalami urgensi berkemih atau dorongan mendadak untuk buang air kecil. Inkontinensia urine juga dapat muncul ketika seseorang kehilangan kemampuan mengendalikan keluarnya urine.
”Keluhan berkemih seperti nyeri, sering buang air kecil, hingga inkontinensia sangat mengganggu kualitas hidup pasien,” Ujar Kanadi.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan penyebab dan tingkat keparahan keluhan. Dokter juga perlu membedakan gejala menopause dari penyakit lain yang membutuhkan penanganan berbeda.
Prolaps Organ Panggul Tidak Boleh Diabaikan
Gangguan pascamenopause juga dapat berkaitan dengan prolaps organ panggul. Kondisi ini terjadi ketika organ panggul turun akibat melemahnya jaringan penyangga.
Organ yang terdampak dapat mencakup kandung kemih, rahim, atau rektum. Pasien mungkin merasakan tekanan, benjolan, atau sensasi mengganjal di vagina.
Menopause dapat berkontribusi terhadap perubahan jaringan penyangga panggul. Namun, usia, riwayat persalinan, dan faktor kesehatan lainnya turut memengaruhi risiko.
Aktivitas tertentu dapat memperberat keluhan pada sebagian pasien. Karena itu, dokter perlu menilai kondisi pasien sebelum menentukan penanganan.
Menganggap keluhan tersebut sebagai bagian normal penuaan dapat menunda pemeriksaan. Padahal, penanganan dini dapat membantu mengendalikan gejala dan mencegah masalah berkembang.
Terapi Hormonal Harus Mempertimbangkan Risiko
Penanganan gangguan urogenital pascamenopause harus menyesuaikan kondisi setiap pasien. Dokter dapat mempertimbangkan terapi nonhormonal maupun hormonal berdasarkan hasil pemeriksaan.
Pelembap vagina dan pelumas dapat membantu mengurangi kekeringan serta ketidaknyamanan. Pada pasien tertentu, dokter dapat meresepkan estrogen lokal untuk mengatasi gejala.
Terapi estrogen lokal bekerja terutama pada jaringan sasaran. Namun, dokter tetap perlu mempertimbangkan riwayat kesehatan dan kemungkinan kontraindikasi.
Latihan otot dasar panggul atau senam Kegel juga dapat membantu keluhan tertentu. Efektivitas latihan bergantung pada jenis gangguan dan konsistensi pelaksanaannya.
Sementara itu, Kanadi mengatakan bahwa terapi laser vagina memerlukan penilaian berdasarkan bukti klinis. Prosedur tersebut tidak boleh dipromosikan sebagai solusi yang pasti efektif.
Pasien berhak menerima informasi mengenai manfaat, risiko, alternatif, dan keterbatasan setiap terapi. Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dari persetujuan tindakan medis yang berdasarkan informasi memadai.
”Terapi laser vagina membantu memperbaiki struktur jaringan tanpa efek samping sistemik yang berat,” Ujar Kanadi.
Keamanan serta efektivitas prosedur harus dinilai secara objektif sebelum dipublikasikan sebagai rekomendasi medis.
Transisi Menopause Juga Memengaruhi Kesehatan Mental
Perubahan hormonal selama perimenopause dapat memengaruhi siklus menstruasi dan kondisi emosional. Sebagian perempuan mengalami perubahan suasana hati, gangguan tidur, atau kecemasan.
Namun, perubahan psikologis tidak selalu disebabkan oleh hormon semata. Faktor sosial, tekanan pekerjaan, kondisi kesehatan, dan kualitas tidur juga dapat berperan.
Setiap perempuan memiliki kemampuan adaptasi yang berbeda. Dukungan keluarga, informasi medis, dan konsultasi profesional dapat membantu menghadapi perubahan tersebut.
”Edukasi kesehatan reproduksi sangat penting agar perempuan mampu mengenali dan menghadapi menopause,” Kata Kanadi.

Edukasi juga perlu membedakan pubertas, perimenopause, dan menopause. Ketiganya merupakan fase berbeda dalam perjalanan biologis manusia.
Perimenopause merupakan masa transisi sebelum menopause ketika siklus menstruasi dan hormon mengalami perubahan. Menopause umumnya ditetapkan setelah seseorang tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.
Informasi yang tepat membantu perempuan mengenali gejala dan menentukan waktu konsultasi. Edukasi juga dapat mengurangi stigma terhadap pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi.
Kebijakan Kesehatan Menopause Perlu Lebih Inklusif
Persoalan menopause tidak cukup diselesaikan melalui edukasi individual. Pemerintah dan penyedia layanan kesehatan perlu memastikan pelayanan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
Dalam kerangka hukum Indonesia, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menjadi salah satu landasan penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
Namun, perlindungan kesehatan perlu terlihat melalui pelaksanaan program dan akses nyata. Ketersediaan tenaga kesehatan, informasi yang akurat, dan keterjangkauan biaya perlu menjadi perhatian.
Fasilitas kesehatan primer dapat memperkuat edukasi mengenai gejala menopause. Tenaga medis juga perlu membantu pasien memahami pilihan penanganan berdasarkan kebutuhan individual.
Pemerintah perlu mendorong pelayanan kesehatan perempuan sepanjang siklus kehidupan. Upaya tersebut mencakup pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, serta dukungan psikososial.
Tanpa edukasi dan akses memadai, perempuan berisiko menghadapi keluhan tanpa penanganan yang sesuai. Karena itu, kebijakan kesehatan menopause perlu bertumpu pada kebutuhan pasien dan bukti ilmiah.

Menopause bukan penyakit yang harus ditakuti. Namun, gejala yang menyertainya tidak boleh diabaikan tanpa pemeriksaan. Perempuan berhak memperoleh informasi medis yang benar dan pelayanan sesuai kebutuhan. Pada akhirnya, keberhasilan pelayanan kesehatan juga ditentukan kemampuan sistem merespons keluhan pasien.



